Foto Wana Wisata Kajar 4
Wid duduk di atas portal tak permanen yang bisa dicabut bila ada keperluan tertentu. Sementara di belakang sana sepasang kekasih duduk begitu saja di ata bebatuan.

Pandangan yang mengarah ke bagian bawah dengan sepasang muda-mudi sedang duduk di atas portal, dan di ujung sana sekelompok pelajar tengah duduk-duduk santai.

Pemandangan pada daerah perbukitan subur di lereng Gunung Muria. Suburnya area tak lepas dari keberadaan debu vulkanik yang pernah dimuntahkan Gunung Muria sekitar 2000-an tahun lalu.

Pemandangan rapi dan bersih pada area dimana Mustaqim membuat studio seninya. Tempat ini menjadi sepotong surga kecil setelah sebelumnya kami datang dari kawasan hutan di bawahnya.

Jalan ini merupakan terusan dari jalan berlapis batu yang sebelumnya kami lewati. Di belakang Wid adalah bangunan cukup besar bergaya tradisional yang kami tak sempat menengoknya.

Sudut pandang lainnya pada foto si bocah yang menggelitik perasaan siapa pun yang memandangnya.

Tulisan Selamat Datang dan papan nama Bumi Perkemahan Wana Wisata Kajar yang sudah mulai memudar. Sebaiknya dibuat yang baru, dan dipasang menyudut, satu ke arah pengendara yang datang dari Kudus, dan satu lagi ke arah pengendara yang datang dari Colo.

Pandangan lebih dekat lagi pada Wid dan patung. Siapa pun yang melihat patung anak itu pasti terkesan dengan ekspresi wajah dan gestur tubuhnya, dan meniru posisi tangan serta wajahnya bisa memberi kesenangan tersendiri.


Pandangan yang mengarah ke bagian bawah dengan sepasang muda-mudi sedang duduk di atas portal, dan di ujung sana sekelompok pelajar tengah duduk-duduk santai.

Pemandangan pada daerah perbukitan subur di lereng Gunung Muria. Suburnya area tak lepas dari keberadaan debu vulkanik yang pernah dimuntahkan Gunung Muria sekitar 2000-an tahun lalu.

Pemandangan rapi dan bersih pada area dimana Mustaqim membuat studio seninya. Tempat ini menjadi sepotong surga kecil setelah sebelumnya kami datang dari kawasan hutan di bawahnya.

Jalan ini merupakan terusan dari jalan berlapis batu yang sebelumnya kami lewati. Di belakang Wid adalah bangunan cukup besar bergaya tradisional yang kami tak sempat menengoknya.

Sudut pandang lainnya pada foto si bocah yang menggelitik perasaan siapa pun yang memandangnya.

Tulisan Selamat Datang dan papan nama Bumi Perkemahan Wana Wisata Kajar yang sudah mulai memudar. Sebaiknya dibuat yang baru, dan dipasang menyudut, satu ke arah pengendara yang datang dari Kudus, dan satu lagi ke arah pengendara yang datang dari Colo.

Pandangan lebih dekat lagi pada Wid dan patung. Siapa pun yang melihat patung anak itu pasti terkesan dengan ekspresi wajah dan gestur tubuhnya, dan meniru posisi tangan serta wajahnya bisa memberi kesenangan tersendiri.
